RSS

Makna di Hari Paskah: Hentikan Kekerasan !

29 Mar
Ketika Yesus Berdoa di Taman Getsemani.

Ketika Yesus Berdoa di Taman Getsemani.

Oleh: Pdt Midian KH Sirait, MTh
Praeses HKBP Distrik XI Toba Hasundutan

Paskah memberikan optimisme, sekalipun pada saat ini rasa kemanusiaan kita sedang terusik. Ketidaknyamanan beribadah sebagai warga negara, ancaman bahkan kekerasan lainnya. Oleh sebab itu nilai kemanusiaan menjadi wacana penting sewaktu kita menyaksikan keadaan dunia menunjukan ketidakberuntungan.

Untuk menjawab hal tersebut di atas maka moment Paskah tahun ini, diharapkan agar gereja-gereja dan umat Kristen Indonesia diharuskan belajar banyak dari penderitaan dan kebangkitan yang telah dijalani Yesus. Iman Paskah memberi makna, bahwa Yesus memiliki komitmen tinggi terhadap pembaruan kemanusiaan. Ia rela dan bersedia mengambil alih penderitaan yang mestinya dijalani manusia menjadi bagian dari sejarah hidupNya dan tanggung jawabNya.

Penggambaran sengsara Yesus selayaknya menjadi simbol yang menawarkan undangan untuk setiakawan dengan saudara-saudara yang menderita yang menjadi korban. Dengan demikian, Paskah (kebangkitan dan kemenangan) Kristus adalah dasar iman gereja dan seluruh anggota jemaat Kristus. Tiap orang Kristen terpanggil untuk melakukan dan menyaksikan perubahan hidupnya. Kristus yang lahir dalam hidupNya memberikan buah-buah nyata. Pembaharuan batin dan hidup merupakan suatu kesaksian nyata yang mampu menerobos dinding kekerasan.

Belajar dari penderitaan, kesengsaraan dan kematian yang harus dijalani Yesus demi tergenapinya missi penyelamatanNya itu, bukan kelemahan, kekalahan ataupun kegagalan. Ini dibuktikan dengan kebangkitanNya dari kubur di hari Paskah; kalau Yesus benar-benar berhenti atau dihentikan oleh kematianNya, memang misi penyelamatanNya boleh dikatakan tidak lengkap dan bahkan gagal.

Dalam pernyataan teologi, Jumat Agung mengingatkan kita, penderitaan bukan kata akhir, meski Yesus harus menjalani hal itu. Proses pengadilan Yesus tersebut, Yesus telah menjadi korban dari keadaan di mana fanatisme sempit dan kelicikan pada pemuka agama, ambisi penguasa, serta emosi massa yang terhasut dan tak terkendali, secara bersama-sama telah melahirkan vonis pidana mati yang sewenang-wenang dan tidak adil itu.

Di sana kayu salib tergantung selama tiga jam, memberi sinyal kepada kita bahkan untuk saat ini untuk Kristen diingatkan untuk terus berupaya untuk menghentikan kekerasan. Hal ini ditandai dengan makin maraknya bentuk kekerasan yang terjadi di sekitar kita. Tema konflik yang muncul ke permukaan ditandai dengan tindak kekerasan. Bumi penuh dengan aroma kekerasan. Tetapi syukur kepada Tuhan, karya Yesus tidak berhenti hanya sampai salib di Jumat Agung. Dengan kematian dan selanjutnya kebangkitanNya itu, dinyatakanlah betapa besar kasih, pengorbanan dan pengampunan yang adalah juga menifestasi dan wujud kemahakuasaanNya yang melampaui segala kuasa dan keperkasaan yang bersifat mansusiawi dan duniawi.

Rasul paulus menegaskan hal itu dalam suratnya kepada jemaat Korintus dengan mengatakan, “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1 Korintus 15:14). Tak salah rasanya, kalau dalam suasana penuh rasa syukur dan sukacita yang menggempita, dalam menyambut Paskah umat Kristen Indonesia dan seluruh dunia memasuki hari raya Paskah, hari peringatan kebangkitan Kristus dari kematian.

Syukurlah penderitaan, kesengsaraan dan kematian yang dijalani Yesus mempunyai makna penebusan bagi manusia, karena manusia sendiri tidak mampu melakukannya, maka melalui penderitaan, kesengsaraan dan kematianNya, Yesus menggantikan manusia yang oleh dosa-dosanya seharusnya menerima hukuman berupa penderitaan, kesengsaraan dan kematian itu.

Dari penjelasan di atas ini, maka Paskah tahun 2013 ini menginspirasikan dan memotivasi kita untuk memusatkan perhatian dan pemikiran kepada makna kebangkitan Kristus pada masa kini di dalam sejarah kehidupan kita. Paskah yang dipahami sebagai kebangkitan Kristus dari kematian, mendorong kita untuk mewujudkan keadaan yang kondusif dan damai. Kita percaya bahwa Yesus Kristus telah hidup dari kematian, kini Dia menciptakan kemanusiaan baru, kemanusiaan yang adil dan yang memiliki tanggung jawab dalam mengukir masa depan.

Misteri Paskah tidak berhenti pada kayu salib, melainkan diikuti tindakan Allah yang membangkitkan Yesus dari alam maut dan menganugerahkan roh yang satu dan sama dengan Roh yang menghidupi Yesus. Anugerah penebusan bagi umat beriman Kristiani berarti menerima panggilan untuk menjalani hidup mengikuti Yesus, ikut memperjuangkan apa yang dikatakan dan yang dilakukan oleh Yesus, untuk menemukan Yesus pada yang paling hina, yang lapar, haus, telanjang, tak punya tumpangan, sakit dan tersingkirkan.

Misteri paskah membawa undangan untuk ikut serta secara kreatif bekerja demi nilai-nilai yang diperjuangkan dan dibela oleh Yesus dengan menanggung resiko kematian di kayu salib. Dari perspektif misteri Paskah, ukuran untuk menilai adalah apa yang diperjuangkan dan dibela oleh Yesus dengan risiko sampai kematian di salib yang dibenarkan oleh Allah dengan membangkitkan dari alam maut.

Paskah adalah pilihan! Pilihan yang ditempuh Yesus Kristus dan pilihan itu adalah pilihan moral, pilihan yang bertolak dai kebebasan dan kata hatinya. Dalam peristiwa Paskah kita diingatkan bahwa Yesus Kristus telah memilih dengan kata hati untuk menempuh kematian demi membebaskan umat manusia dari kuasa dosa dan kuasa maut.

Paskah adalah simbol dan materi menangnya kebenaran Allah atas kebatilan manusia. Paskah adalah menangnya kehidupan atas kematian; paskah adalah menangnya kepentingan bersama umat manusia atas egoisme dan kepentingan pribadi, keluarga dan kelompok sendiri. Paskah adalah menangnya pilihan kata hati atas pilihan karena suap dan bujuk rayu kesenangan materialisme.

Paskah berarti happy end dari cerita penderitaan yang dipilih oleh Yesus Kristus. Kebangkitan adalah kemenangan atas kuasa kematian sekaligus proklamasi kemenangan atas kuasa doa; “maut telah ditelan dalam kemenanganmu? Hai maut di manakah sengatmu?” kemenangan hidup atas kematian yang ditandai dan dimateraikan oleh kebangkitan Yesus Kristus, memaknai setiap pilihan yang diambil dan ditempuh oleh setiap orang percaya.

Akhirnya, Salib itu adalah dialamatkan kepada manusia dan kemanusiaan akan mendorong untuk menghentikan hukum yang menindas yang pada gilirannya akan memampukan kita membangu kesejahteraan, kebudayaan dan pengetahuan yang luhur, mengurangi kemiskinan, keterbelakangan dan pengangguran.

Nilai dan makna Paskah berarti Kristus adalah sumber damai dan pendamaian. Maka setiap orang Kristen dituntut untuk hidup berdamai dengan sesamanya. Berdasarkan prinsip inilah gereja tidak menyetujui tindak kekerasan semacam itu hanya akan menghasilkan kehancuran dan kebinasaan. Kita terpanggil untuk menyaksikan perubahan hidupnya. Kristus yang lahir dalam hidupNya memberikan buah-buah nyata, pembaharuan batin dan hidup merupakan suatu kesaksian nyata yang mampu menerobos dinding kekerasan. Amin.

St. JEB || Disalin dari  Millis RENUNGAN MINGGU

 

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 29 Maret 2013 in Perayaan Paskah, Renungan

 

Tag:

Wajib tinggalkan balasan disini:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: