RSS

Suporter vs Member Yesus

03 Apr

Khotbah Minggu PALMARUM, 1 April 2012.
Markus 11 : 1 ~ 11


St.JEBKhotbah Minggu Palmarum saya beri judul atau thema berbeda dengan thema Khotbah di Kebaktian Minggu secara umum, “Serukanlah Kemuliaan Tuhan” menjadi “Suporter versus Member Yesus”. 
Minggu Palmarum adalah satu minggu menjelang Paskah atau lima hari menjelang kematian Yesus dikayu salib. Saya sangat tertarik dengan ayat ini, diawali dari angka 1 dan diakhiri dengan angka 1 dan semua ayat khotbah adalah angka 1, demikian nats nya dengan isi khotbah minggu Palmarum. Yesus adalah yang pertama harus dipuja, disembah, tetapi Yesus juga yang pertama harus disalibkan, kemungkinan orang yang pertama mengelu-elukanNya menjadi yang pertama untuk menyalibkanNya.
 
Pada Minggu Palmarum, hari minggu sebelum Paskah, merupakan perayaan masuknya Yesus ke Kota Suci/Ibukota Yerusalem. Peristiwa ini sangat istimewa sekali karena peristiwa ini terjadi seminggu sebelum Yesus disalibkan. Yesus yang dielu-elukan dua kali di Jerusalem diwaktu yang sangat singkat, pertama: “Hosanna“, dan kedua adalah : “Salibkan Dia“.
Minggu Palmarum disebut juga Pembuka Pekan Suci yang berfokus pada pekan terakhir Yesus di kota Yerusalem. Pada saat ini umat Katolik akan membawa Daun Palem sebagai sebuah simbol kemenangan atau simbol menyatakan kemenangan martir/kematian dari Yesus. Dan di gereja pada umumnya termasuk HKBP gereja saya, saat ini penutup mezbah/altar semuanya menggunakan warna ungu/purple.
 
Dari Nats Injil Markus 11:1-11, dapat kita lihat:
  1. Kuasa Yesus.  Yesus memerintahkan kepada dua orang muridNYA untuk pergi kekota/kampung diseberang mereka untuk mengambil keledai yang masih muda belia yang belum pernah ditunggang oleh siapapun, dan muridNYA cukup hanya mengatakan bahwa keledai tersebut untuk Yesus. Bisa kita bayangkan pada saat ini kedua murid mungkin tidak akan percaya dengan tugas yang mereka jalankan. Mungkin kedua murid akan saling mengatakan kamulah yang bicara nanti, jangan saya. Alhasil, pemilik keledai menyerahkan keledai tanpa banyak bertanya. Pada zaman sekarang kemungkinan kedua murid akan diteriaki sebagai “maling” dan setidaknya babak belur dihakimi massa atau tewas mengenaskan.
  2. Profil seorang Raja yang sederhana. Yesus masuk ibukota Yerusalem dengan naik keledai betina yang masih muda. Pada zaman ini keledai betina muda adalah jenis transportasi rakyat jelata. Tak ada kegagahan dan keperkasaan, berbeda dengan kuda yang melambangkan kekuatan, kegagahan dan kehormatan. Seorang Raja tidak mengendarai keledai untuk berperang membebaskan bangsanya dari penjajahan atau seorang Raja tidak mungkin masuk diibukota hanya mengendarai seekor keledai. Keledai biasanya digunakan untuk melakukan pekerjaan yang biasa saja karena keledai dianggap lebih rendah daripada kuda. Dan untuk memperoleh keledai itu murid-murid harus meminta dari orang lain sesuai dengan perintah Yesus, ‘Tuhan memerlukannya’ (ay.3).
  3. Sambutan terhadap sang Raja.  Ketika Yesus masuk ke kota Yerusalem, seluruh rakyat yang dilewati mengelu-elukanNYA sebagai “RAJA”.  “Hosana diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan” (ay.9). Disini kita saksikan bahwa ada kemuliaan dan keagungan, orang-orang rela melepaskan baju, jubah kemudian menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan (ay.8). Mereka berjalan mengikuti Yesus baik di berjalan depan maupun berjalan di belakang Yesus, semuanya berseru: “Hosana”.  Tapi seminggu kemudian seruan itu berubah menjadi: “Salibkan Dia”.   Mereka berharap Yesus akan melakukan perubahan (dalam politik), mengusir penjajah Romawi dari Jerusalem dan dari Bait Suci. Semua orang mengelu-elukan Yesus dengan penuh semangat, mereka menharapkan hanya keuntungan buat mereka. Mereka beranggapan bahwa dengan mengelu-elukanNYA, maka Yesus akan menjadi Raja mereka di Bait Allah dan sekaligus memerintah selayaknya raja yang ada di dunia, sehingga kehidupan mereka bisa lebih sejahtera serta tidak tergantung kepada kekuasaan bangsa Romawi. Mungkin untuk zaman sekarang dapat kita gambarkan, ketika kita menyambut seseorang yang kita anggap sangat terhormat, kita akan persilahkan duduk dikursi empuk. Diatas meja tersedia makanan dan buah maupun minuman yang cukup lezat. Suatu ketika kita minta tolong kepadanya ternyata lain dari harapan kita. Beliau ini mengatakan tidak bisa membantu apalagi menolong. Maka putuslah harapan, yang ada hanyalah sumpah serapah yang keluar. Inilah ciri manusia serakah (Batak: Holong marpambuat).
  4. Suporter vs Member.  Kita sebagai warga Kristen banyak yang hanya suporter Yesus. Kita tidak mngenal Yesus didalam kehidupan sehari-hari kita. Kita terus mengatakan bahwa kita Kristen, kasihan mereka, sedih melihat bencana alam, atau kasihan melihat banyak gereja ditutup, dirusak maupun ada yang sampai dibakar. Kita kasihan melihat umat Kristen yang melakukan Kebaktian dipinggir jalan atau dikejar-kejar orang. Tetapi hanya sebatas dimulut. Ketika Kebaktian di Gereja ataupun di Lingkungan selalu ada saudara seiman kita minta didoakan, tetapi hanya sebatas di Kebaktian saja melalui Doa Syafaat. Apakah kita harus dikatakan bebal sama seperti muridNYA dikatakan bebal, padahal mereka selalu bersama dengan Yesus (Mark. 8:27-28; Mat. 16:13-16). Bahkan kita sering kegiatan pelayanan atau kerohanian hanya untuk formalitas saja, hanya ingin dilihat orang untuk mendapat pujian dari orang lain.  Tidakkah ini sama dengan menyalibkan Yesus untuk kedua kalinya. Memang tidak gampang untuk meneladani apa yang sudah Yesus lakukan, atau melaksanakan ajaranNYA. Hidup sebagai pelayan dan sebagai pengikut Kristus harus penuh pengorbanan. Siapa pun kita tidak akan mampu untuk berkorban seperti yang dilakukan Yesus, tetapi setidaknya kita tetap harus berusaha untuk berbuat yang terbaik dan menjadi saluran berkat bagi orang lain.
Kesimpulan:
  • Hendaklah kita menyambut/menerima Yesus jangan hanya dibibir saja, tetapi terimalah, sambutlah Dia dengan segenap hati dan akal pikiran kita.
  • Didalam kehidupan sehari-hari kita sering seperti penonton olahraga tinju ataupun sepakbola, yang ketika menang kita akan mengelukannya siang dan malam, tetapi ketika kalah kita akan menjelek-jelekkan, mencibir, memaki dengan sumpah serapah.
  • Lemah lembut, rendah hati dan tidak sombong adalah kunci sebagai member/true follower Yesus. (Matius 5 : 5,7)
(St.JEB.)
 
 

Tag:

Wajib tinggalkan balasan disini:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s