RSS

Haji Naimun Menolak Gereja HKBP.

22 Sep

Surat Terbuka Kyai Kampung Untuk Semua yang Pikirannya Tidak Kampungan.

Haji Naimun (Desa Jejalen Jaya, Kecamatan Tambun Utara) MENOLAK GEREJA HKBP

Gbr: Haj namim

DI USIAKU YANG MULAI mendekati senja, ingin rasanya aku tetirah tenang, mendekatkan diri keharibaan Illahi Robby, duduk tafakur sembari berdzikir di rumah-Nya yang teduh dan sejuk. Berdo’a, memohon agar kiranya jalan menuju keabadian itu lurus dan terang adanya. Namun ketenangan itu tiba-tiba terusik, karena di depan mataku akan dibangun pintu kemurtadan bagi anak cucuku. Yah, pintu pemurtadan itu tak lain adalah akan dibangunnya Gereja HKBP Philadelfia di sudut kampung dekat Perumahan Bekasi Elok 1. Seketika tubuhku gemetar membayangkan anak cucuku melambaikan tangan perpisahan menuju jalan kegelapan.

Peta Jejalen Jaya

Peta Jejalen Jaya

26 Desember 2005, kuputuskan untuk segera melayangkan surat ke Kepala Desa atas nama Forum Majlis Ta’lim Desa Jejalen Jaya No. 01/FMT-JLJ/2005, yang berisikan pernyataan/ultimatum penolakan atas rencana didirikannya gereja di Kampung Jalen Desa Jejalen Jaya, dengan dilampiri lembar tandatangan jamaah sebanyak 312 warga Desa Jejalen Jaya. Dengan surat itu kuharap Kepala Desa mengindahkannya dan tidak memberikan ijin kepada Panitia Pembangunan Gereja tersebut.

Dalam pola fikirku yang sederhana, kiranya cukuplah surat itu menjadi bukti bahwa warga menolak, bahwa umat tidak menerima. Namun apa yang terjadi? Panitia pembangunan gereja yang dibekali modal yang kuat di tengah umat yang imannya kian sekarat, nampak semakin leluasa melangkah bahkan melompat untuk mendapatkan segala sesuatu yang dibutuhkannya. Sementara umat pun kian terjepit dalam jebakan rentenir yang dimainkan oleh mereka, sebagai salah satu strategi untuk memuluskan keinginannya. Meski demikian, dengan sekuat tenaga kucoba untuk melawan dan merangkul saudara-saudaraku di seluruh kampung-kampung se-Desa Jejalen Jaya bahkan saudara-saudaraku di Bekasi Elok 1, Bekasi Elok 2, Permata, Panorama, Bumi Sentosa Asri, Villa 2, Kintamani, bahkan dari kampung-kampung terdekat desaku. Alhamdulillah mereka menyambut ajakanku, karena saudara-saudaraku pun mempunyai pemikiran yang sama denganku: “Takut bila suatu saat menyaksikan anak cucu melambaikan tangan perpisahan menuju jalan kegelapan.”

14 Desember 2007, hatiku berdebar ketika aku bersama beberapa tokoh agama dan masyarakat lainnya diundang Camat Tambun Utara, A. Djunaedi Rakhman, SE. Dalam pertemuan itu ia bertanya: “Apakah benar, masyarakat desa Jejalen Jaya,  tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan tokoh wanita, setuju akan adanya pembangunan gereja? Hal ini perlu saya tanyakan karena saya telah menerima surat rekomendasi persetujuan dari Kepala Desa Jejalen Jaya,” ujar Pak Camat.

Pernyataan Pak Camat bagai petir di siang bolong yang mengejutkan bahkan membuat kami semua marah, terutama kepada aparat pemerintahan desa. Pak Camat bertindak bijak dan arif, rapat ditunda dan akan dilanjutkan pekan depan. Meskipun demikian dari pertemuan itu terdapat beberapa catatan antara lain:

  1. Warga Desa Jejalen Jaya yang telah menandatangani pernyataan persetujuan atas rencana pendirian Gereja HKBP Filadelfia agar dicek ulang atas kebenaran tandatangan tersebut.
  2. Ada beberapa warga Desa Jejalen Jaya tidak tahu maksud dan tujuan tandatangannya.
  3. Ketua dan anggota BPD tidak dilibatkan dalam rencana itu.
  4. Dan perlu dibentuk Tim Pengecekan Data atas rencana pendirian Gereja HKBP Filadelfia.
  5. Dan kepada Kepala Desa diperintahkan untuk mengundang Panitia Pembangunan Gereja dalam pertemuan pekan depan.

Dalam pertemuan lanjutan di Aula Desa Jejalen Jaya, pihak panitia pembangunan gereja tidak hadir, meskipun demikian musyawarah terus berjalan. Hasilnya pembangunan gereja HKBP ditolak mentah-mentah. Pernyataan penolakan tersebut ditandatangani oleh seluruh perwakilan warga dan instansi terkait yang hadir dalam musyawarah tersebut. Namun demikian, pihak HKBP menolak hasil musyawarah tersebut karena merasa sudah mengantongi 259 dukungan dari warga terutama dari aparat desa.

Selanjutnya kami pun mencari data orang-orang yang dinyatakan mendukung dan tanda-tangan di atas materai itu. Kami datangi masing-masing Ketua RT untuk menjadi saksi dan mengundang mereka ke rumahnya. Kami hanya ingin menanyakan, “Apakah benar tanda-tangan mereka di atas materai ini merupakan persetujuannya akan pembangunan gereja?”

Di antara mereka kaget dan marah-marah: “Kalau saya tahu tandatangan di atas materai itu buat persyaratan pembangunan gereja, saya tidak mau tanda tangan. Memang waktu itu saya tanda-tangan di surat pernyataan yang tidak jelas peruntukannya. Surat dikosongin. Saya sempat bertanya, ‘buat apa? Mereka bilang nanti akan dapat uang BLT.”

Lalu kami bertanya lagi kepada warga lain, “Apakah benar tandatangan ini pernyataan setuju akan pembangunan gereja? Kalau setuju itu hak Saudara.” Kemudian warga itu menjawab, “Saya tidak setuju. Waktu itu saya dikasih uang Rp 200.000 kemudian saya disuruh tanda tangan. Begitu saya baca surat pernyataan itu tidak jelas peruntukannya, dikosongin, tidak tahu maksudnya buat apa.” Ada juga warga yang bilang, “Tanda tangan saja, nanti dapat uang pinjaman!”

Ada yang aneh dari data-data tersebut, orang gagu ada tanda tangannya, bahkan warga yang gila pun ada tanda tangannya juga. Orang luar Desa Jejalen Jaya juga ada tandatangannya. Dan yang lucu, bahkan benar-benar lucu, orang yang tidak tahu apa-apa, ada tandatangannya juga. Ini benar-benar perbuatan orang-orang yang “biadab”.

Setelah kami mengecek ke lapangan, ternyata di dusun III di mana lokasi rencana pembangunan gereja HKBP Philadelfia berada, tidak ada jemaat HKBP Philadelfia. Mulai RT 1, 2 & 3 RW 05, RT 6 & 7 RW 06, RT 1, 2 & 3 RW 07, RT 1, 2 & 3 RW 09, termasuk RT 1 s/d 8 RW 10 yang nempel dengan tembok pembatas lokasi rencana gereja, hanya ada 1 KK yakni kelurga “S”. Begitu juga di Dusun 1 Kampung Kebon dan Kampung Gondrong, mulai dari RW 01, 02, dan 03, yang jauh dari lokasi. Sedangkan di Dusun II RT 1, 2 & 3 RW 04 Desa jejalen Jaya tidak ada jemaat HKBP Philadelfia. Jemaat HKBP Philadelfia hanya dari luar Desa Jejalen Jaya. Sebahagian besar dari Perumahan Villa Bekasi Indah 2 Desa Sumber jaya Kecamatan Tambun Selatan, dan yang lain dari Perumahan Graha Prima dan sekitarnya, Desa Mangun Jaya Kecamatan Tamb Selatan dan Desa Satria Jaya Kecamatan tambun Utara.

Lalu …

“Bukankah hak dan kewajiban kami untuk berjuang menyelamatkan Aqidah anak cucu kami?”

Hormat Saya,

ttd

H. Naimun

.

Sumber: umarabduh.bog.com

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 September 2012 in Pengrusakan Gereja, Penyegelan Gereja

 

Tag: , ,

Wajib tinggalkan balasan disini:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: