RSS

Martir-nya Anak Sekolah Minggu

06 Nov

Tragedi Pembantaian Anak Sekolah Minggu Pada Saat Kebaktian

JEB.  Minggu pagi itu adalah suasana ceria yang sedang dialami oleh setiap anak-anak Kristen.  Mereka biasanya akan mandi dengan semangat dan berganti bajus yang bagus, beda dengan hari biasa yang harus berpakaian seragam sekolah, membawa tas sekolah dan setumpuk PR yang sudah harus dikerjakan pada malam sebelumnya. Adakalanya juga suasana gaduh menghantui seorang anak jika PR tidak selesai, maka wajah cembetut dan malas akan menghantui untuk berangkat sekolah.

Demikian juga suasana hati pada Anak Sekolah Minggu di  HKBP Resort di Simanosor Tapanuli Tengah. Mereka berangkat untuk Kebaktian Sekolah Minggu dengan hati yang ceria dan uang jajan.

Malang tak dapat dielak, dan Untung tak dapat diraih. Bagaikan hujan, petir dan kilat yang menggema seketika suasana gembira Anak Sekolah Minggu HKBP Maranatha di Simanosor, Tapanuli Tengah yang sedang belajar bernyanyi sebelum memulai Kebaktian Sekolah Minggu, prahara duka nestapa datang menghampiri para Anak Sekolah Minggu dan Guru Sekolah Minggu mereka.

Pada hari Minggu (4/11/2012) sekitar pukul 08.00 WIB, tragedi berdarah di HKBP Resort Maranatha Simanosor, Desa Simanosor, Kecamatan Sibabangun, sekitar 36 Km dari Pandan, ibukota Tapanuli Tengah. Tiga Anak Sekolah Minggu yang merupakan Tunas Muda Gereja, harus tewas mengenaskan saat mengikuti kebaktian di gereja itu seseorang   pemuda setempat bernama Burhan Gultom (35). Sang pelaku dikatakan adalah seorang pemuda stress, yang dialaminya sejak belakangan ini. Selanjutnya sipelaku Burhan Gultom akhirnya tewas setelah dihakimi massa akibat menantang massa yang akan menangkapnya .

Tiga orang Anak Sekolah Minggu tewas ditempat dibantai oleh pelaku yaitu:

  1. Yohana Nikita br. Panggabean (3),
  2. Aprilia Kristina br. Pasaribu (4,5),
  3. Coki Nainggolan (3).

Sementara 3 (tiga) orang Anak Sekolah Minggu menderita luka parah (kritis) yaitu:

  1. Abel Hutabarat (9),
  2. Ferdinan Sitompul (10),
  3. Nandar Simanjuntak (5).

Korban lainnya adalah, warga setempat, Ferdinand Sitompul (40), Dapot Pasaribu (35) dan anaknya Samuel Pasaribu (16) yang juga ikut jadi sasaran amuk dari pelaku, saat akan dilumpuhkan massa. Dapot mengalami luka tombak, dan Samuel mengalami luka bacok di kepalanya. Seluruh korban luka itu langsung dilarikan ke RSUD Pandan dan RSU Dr. F.L. Tobing Sibolga, karena kondisinya kritis.

Mayat ketiga korban Anak Sekolah Minggu yang masih berusia balita itu yang didapati tergeletak bersimbah darah di lantai gereja yaitu Yohana Nikita br. Panggabean (3), Aprilia Kristina br. Pasaribu (4,5), Coki Nainggolan (3), telah dimakamkan di halaman samping gereja.

Krologis Kejadian

Menurut keterangan dari Guru Sekolah Minggu, Evi br Pasaribu (21) dan St. D. br. Situmorang, peristiwa tersebut bermula pada pagi itu sekira pukul 08.00 WIB, sekitar 50-an anak sekolah minggu telah berada di dalam gereja yang berukuran sekitar 15 meter x 30 meter. Seperti biasanya mereka bersiap untuk memulai kebaktian minggu. Pagi itu kebetulan sedang hujan mengguyur sehingga jumlah anak sekolah minggu lebih sedikit dari biasanya.

“Sambil menunggu Anak Sekolah Minggu yang lainnya, maka anak-anak sedang latihan menyanyi. Guru ASM Evi br.Pasaribu berada di dekat meja di depan barisan kursi sekolah minggu dan melihat pelaku tiba-tiba sudah berdiri di pintu samping kanan. Pelaku memegang parang di tangan kanannya dan berjalan masuk ke dalam gereja sambil mengayun-ayunkan parangnya” tukas Evi kepada METRO, di lokasi.

Sambil menenteng parang panjang yang dibawanya  pelaku mendatangi Anak Sekolah Minggu. Maka dengan ketakutan, guru dan anak sekolah minggu itu lantas lari berhamburan ke luar dari dalam gereja. Ada yang lari dari pintu depan, ada yang dari pintu samping kiri. Kemudian, pelaku menghajar dan membantai setiap anak Sekolah Minggu yang masih kecil-kecil yang tidak mengerti apa yang terjadi dan kebingungan hendak lari kemana, dengan membabi buta. Kedua Guru ASM tersebut mengatakan tidak sempat melihat bagaimana caranya pelaku membantai para anak didiknya,dan mereka mengaku trauma dengan tragedi berdarah dan memilukan itu. Setelah lari ke luar, dia tidak tahu apa yang terjadi di dalam gereja.

Tetapi ada salah satu Anak Sekolah Minggu, Riska br Graha (13), mengaku sempat melihat pelaku membantai salah satu korban.  “Aku enggak melihat dia masuk. Tapi aku juga ikut lari karena takut. Tapi, aku sempat menunggu menarik adikku Ara, supaya ikut lari. Sempat kulihat dia membacoki anak sekolah minggu yang duduk di kursi di depan. Aku sendiri duduk agak di belakang,” tukas Riska.

.

Prosesi Pemakaman Ketiga Bocah Cilik

Pada hari Senin (5/11/2012) sekira pukul 15.30 WIB, jenazah Yohana Nikita br Panggabean (3), Aprilia Kristina br Pasaribu (4,5) dan Coki Nainggolan (3) dimakamkan bersamaan di satu liang kubur, tepat di samping gedung Gereja HKBP Maranatha Simanosor, Desa Simanosor, Kecamatan SIbabangun, Tapteng, tempat terjadinya tragedi berdarah itu.

Prosesi pemakaman ketiga anak sekolah Minggu tersebut diwarnai isak tangis dan histeris segenap keluarga, jemaat dan warga. Ribuan orang mengiringi prosesi pemakaman ketiga jenazah dari rumah duka menuju gereja. Jarak rumah duka masing-masing sekitar 500 meter, 550 meter dan 700 meter ke gedung gereja.
Para paralado atau majelis jemaat gereja tampak berbaris di halaman gereja untuk menyambut kedatangan ketiga jenazah yang sudah dimasukkan ke dalam peti jenazah itu. Setibanya di halaman gereja, jenazah lalu diserahkan ke pihak penatua.

Penyerahan jenazah juga ditandai dengan bunyi denting lonceng gereja. Para penatua kemudian menggotongnya ke dalam gedung gereja. Ketiga peti jenazah lalu diletakkan di atas meja di depan mimbar. Sementara pihak keluarga korban duduk mengelilingi peti jenazah.

Isak tangis kian merebak saat jenazah ketiga korban dibawa masuk ke dalam gereja. Hampir seluruh orang yang hadir di tempat itu menitikan airmata. “Ya Tuhan, mereka anak sekolah Minggu, masih balita. Anak-anak ini tidak berdosa. Kenapa ada orang yang tega berbuat sekejam itu,” kata salah seorang jemaat dengan suara tersendak-sendak sambil menghapus airmata yang membasahi pipinya.

Sebelum acara kebaktian khusus dimulai, sejumlah pihak secara bergantian menyampaikan kata-kata duka cita dan penghiburan kepada pihak keluarga korban. Yang paling mengharukan saat guru dan para anak sekolah Minggu, teman korban, menyampaikan ungkapan duka cita dan karangan bunga duka sambil menyanyikan sebuah lagu rohani sebagai lagu perpisahan.

“Au ma na mangkhophop sude dakdanak sekolah Minggu on. Tung mansai haccit jala porsuk do huhilala siala kejadian on. Sahat tu saunari, sai hurimang-rimangi do di rohakku. Boasa Tuhan gabe songon on. Tung mansai haccit jala porsuk do huhilala siala peristiwa on. Oh hamu sude amang inang, dang tardokkon au be sude na di rohakon. (Akulah yang membina semua anak sekolah Minggu ini. Tragedi ini sangat menyakitkan. Sampai saat ini, aku masih merenung-renungkannya di dalam hatiku. Mengapa jadi seperti ini Tuhan. Aku merasakan peristiwa yang sangat memilukan ini. Oh, bapak ibu semua, tidak terkatakan semua kesedihan di hatiku ini),” teriak St. D. br.Situmorang, salah satu guru sekolah Minggu yang saat kejadian juga sedang berada di dalam gereja.

Kebaktian khusus mendoakan para korban dipimpin langsung oleh kepala Departemen Marturia HKBP, Pdt Marolop Sinaga STh. Dalam kotbahnya, Pdt Marolop menyampaikan, ketiga korban datang ke gereja dalam iman. Lalu mereka meninggal dunia mengikut Tuhan. “Anak-anak ini tidak berdosa dan pasti masuk ke surga. Pucuk pimpinan dan seluruh jemaat HKBP se-dunia turut berduka cita sedalam-dalamnya. Kita kehilangan tiga anak Tuhan,” kata Pdt Marolop.

Bupati Tapanuli Tengah Menangis

Terlepas dari itu, kematian secara tragis yang dialami tiga balita saat ibadah di Gereja HKBP Maranatha Simanosor memunculkan simpati dari berbagai pihak. Bupati Tapanuli Tengah dan Plt. Gubsu pun menyatakan duka citanya.

Kemarin siang, Bupati Tapteng, Raja Bonaran Situmeang SH, MHum, beserta rombongan langsung melayat ke rumah duka. Bahkan, Bonaran menitikan airmata saat menyampaikan ungkapan duka cita dan kata penghiburan kepada keluarga almarhum. Bonaran dan rombongan mendatangi satu per satu rumah duka. Mereka juga memberikan sumbangan penghiburan kepada pihak keluarga. “Kami turut berduka cita atas kepergian anak yang pasti sangat disayangi ini. Kami hanya dapat berdoa agar pihak keluarga diberi ketabahan dan berkat oleh Tuhan YME. Sebab, yakinlah, sehabis duka pasti akan ada harapan dan suka cita dari Tuhan,” ucap Bonaran seraya menghela airmatanya dengan sapu tangan di tangan kanannya seperti dikutip Metro Tapanuli (grup Sumut Pos).

Di tempat lain, Plt Gubsu yang beru tiba di bandara Polonia pun langsung menyampaikan duka citanya. “Musibah ini hendaknya diselesaikan secara kekeluargaan dan adat agar tidak berkembang menjadi keretakan hubungan yang lebih luas,” ujar Gatot saat tiba di Bandara Polonia Medan setelah 2 Minggu melakukan Ibadah Haji, Senin (5/11).

Pelaku Akhirnya Tewas Dihakimi Massa

Mendengar suara teriakan histeris dan jeritan minta tolong, maka warga sekitar Gereja kemudian ramai berdatangan. Kemudian warga tersebut mengetahui cerita kejadiannya dan melihat kondisi para korban yang tewas mengenaskan di dalam gereja. Massa kemudian mendatangi rumah pelaku dan memanggilnya agar keluar darimemancing pelaku agar keluar dari dalam rumahnya yang tumah. Karena pelaku tidak keluar dari rumah maka massa kemudian melempari rumahnya dengan batu dan kayu.

Akhirnya, pelaku keluar dari rumahnya menantang massa yang cukup ramai sambil menenteng sebilah parang dan tombak sepanjang sekitar satu meter.  Warga lalu berusaha melumpuhkan pelaku dengan cara melemparinya dengan batu. Namun pelaku melawan dan terlibat duel dengan Dapot Pasaribu (35). Pelaku menombak tangan kanan Dapot hingga menancap.  Melihat ayahnya terluka maka anak Dapot Pasaribu bernama Samuel Pasaribu dan beberapa warga lainnya lantas mencoba membantu dan melumpuhkan pelaku. Setelah pelaku dapat dilumpuhkan maka diinformasikan, warga sempat menghakimi  pelaku. Pelaku mengalami beberapa luka sobek di kepala..

Kemudian pelaku yang sudah babak belur dan berdarah-darah sempat diamankan ke Mapolsek Sibabangun, lalu dilarikan ke RSUD Pandan. Namun, dalam perjalanan menuju rumah sakit, pelaku sudah meregang nyawa.

Kapolres Tapteng AKBP Dicky Patrianegara membenarkan tragedi berdarah itu. Dikatakannya, pelaku datang dan masuk ke dalam gereja di mana anak sekolah minggu sedang bersiap untuk memulai kebaktian. Pelaku yang membawa sebilah parang kemudian menyerang anak-anak sekolah minggu. Hingga akhirnya pelaku berhasil dilumpuhkan warga sekitar. “Ada tiga anak sekolah minggu yang tewas di tempat. Tiga lagi luka-luka dan sudah dibawa ke rumah sakit. Sementara ada dua warga lainnya yang juga terluka saat mencoba melumpuhkan pelaku. Pelaku sempat dimassakan, hingga akhirnya tewas dalam perjalanan menuju rumah sakit,” tukas Dicky. Pihak kepolisian sendiri masih mengumpulkan barang bukti dan keterangan saksi-saksi untuk menguak kronologis kejadian yang lebih akurat. “Meski pelaku sudah meninggal dunia, proses penyidikan tetap dilanjutkan,” tukasnya.

Monumen Peringatan.

Majelis Pekerja Sinode Distrik HKBP Distrik Sibolga – St. Prins W. Tambunan berharap, dibangun monumen untuk mengenang peristiwa tragis tersebut, sebagai sejarah bagi jemaat HKBP.

“Kalau bisa tidak ada salahnya dibuat monument untuk mengenang hal tragis ini. Bagaimanapun, peristiwa ini tidak bisa dilupakan, sehingga siapapun yang melihat terdorong untuk semakin mendekatkan diri pada Tuhan,” harap mereka.

Pendeta HKBP Resort Maranatha Simanosor Pdt. A. Sitorus kepada wartawan menyampaikan pasti memikirkan usulan tersebut. Bahkan, kata dia, sudah ada jemaat HKBP yang memberikan sumbangan untuk pembangunan monument tersebut.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sumber :

  1. metrosiantar.com
  2. hariansumutpos.com
  3. sindonews.com
  4. metrotapanuli.com
  5. Milis HKBP DBFV.
Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 November 2012 in Hukum & Kriminal

 

Tag:

Wajib tinggalkan balasan disini:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: