RSS

Pemberkatan di Gereja Bubar, Kekasih Mempelai Pria Menuntut Dinikahi.

16 Agu
MEMASUKi – Kedua mempelai MN dan M br S saat hendak memasuki lokasi acara di kediaman mempelai pria.

MEMASUKI – Kedua mempelai MN dan M br S saat hendak memasuki lokasi acara di kediaman mempelai pria.

SIANTAR – Acara pemberkatan pernikahan antara MN (51) dengan kekasihnya M br S (47) seyogianya digelar di HKBP Martoba, seketika bubar, Kamis (15/8) pukul 11.00 WIB. Pasalnya, sebelum memasuki gereja, seorang wanita berinisial R br N (47), mengaku kekasih mempelai pria tiba-tiba muncul dan berteriak menuntut dinikahi.

Menurut informasi dihimpun METRO, peristiwa menghebohkan tersebut berawal ketika kedua mempelai bersama keluarga kedua belah pihak tiba di kompleks HKBP Martoba, beralamat di Jalan Rakutta Sembiring, Kelurahan Kahean, Siantar Utara.

Jadwal pemberkatan pernikahan tersebut memang sudah diagendakan pihak Gereja HKBP setelah melalui mekanisme pra nikah, mulai dari tingting (diumumkan di gereja, red) hingga martumpol (perjanjian pra nikah).

Akan tetapi, belum lagi masuk ke gedung, seorang wanita berinisial R br N tiba-tiba datang menemui MN. Yang membuat keluarga dan mempelai wanita terperangah, ketika R br N menagih janji MN untuk menikahinya. Lalu sembari berteriak, R br N mengaku sudah dua kali keguguran hasil hubungan dengan MN. Suasana di kompleks gereja pun makin heboh.

Saat itu, pihak keluarga MN berusaha menenangkan R br N dan membujuknya agar pergi dari lokasi supaya acara pemberkatan pernikahan MN dengan kekasihnya  M br S tetap dilanjutkan.

Namun wanita yang mengaku sudah memiliki tiga orang anak ini tetap bertahan dan terus berteriak-teriak sehingga suasana jadi tidak kondusif. Tak lama kemudian, petugas Polsek Siantar Utara datang ke lokasi setelah mendapat laporan warga yang mengatakan ada keributan di HKBP Martoba.

Melihat kondisi itu, Pendeta HKBP Martoba Pdt M Naibaho STh mengajak kedua belah pihak untuk berbicara baik-baik di ruang konsistori HKBP Martoba. Oleh pendeta kemudian menanyakan langsung kepada wanita tersebut bagaimana sebenarnya hubungan antara dia dengan MN.

Saat itu, pendeta menanyakan kenapa tidak datang saat acara martumpol. Di depan MN dan keluarganya, R br N kemudian menceritakan bagaimana sebenarnya kisah mereka. Bahkan dia mengaku sudah dua kali keguguran pada tahun 2012 kemarin.

Masih di hadapan pendeta dan keluarga kedua mempelai, R br N mengatakan, selama ini dia tidak mengetahui bahwa MN memiliki hubungan dengan M br S. Bahkan, hubungan mereka dianggap tetap lancar-cancar dan sudah berencana akan menikah pada akhir tahun ini. Setelah mendengarkan penjelasan itu, Pdt M Naibaho mengambil kesimpulan bahwa pemberkatan pernikahan di Gereja HKBP dibatalkan dan tidak bisa dilangsungkan.

Sementara itu,  M br S dan pihak keluarganya sangat kecewa setelah mengetahui calon suaminya telah membohonginya. Kemudian, mereka pun meninggalkan lokasi dan pulang ke kampungnya di Huta Parsaoran Talun Kondot, Kecamatan Panombeian Pane, Simalungun. Sedangkan, mempelai laki-laki dan keluarganya pulang ke rumah orangtuanya di Jalan TB Simatupang, Kelurahan Kahean, Siantar Utara.

Sementara di rumah tersebut sudah berdiri teratak, makanan yang dikateringkan (dipesan, red), para undangan lainnya juga sudah memadati lokasi acara, karena rencananya setelah acara pemberkatan akan dilanjutkan acara pesta adat.

“Terpaksa dibatalkan, karena aturan di Gereja HKBP tidak boleh dilangsungkan pemberkatan kalau masih ada pihak-pihak yang keberatan. Apalagi yang mengaku masih ada hubungan dengan salahsatu mempelai,” ujar Pendeta HKBP Martoba Pdt M Naibaho STh kepada METRO.

Naibaho menjelaskan, pada saat martumpol di gereja, beberapa hari lalu,  pihak gereja sudah menanyakan langsung kepada kedua mempelai, apakah masih ada ikatan dan atau terikat hubungan dengan yang lain. Pada saat itu, kedua mempelai mengaku tidak ada memiliki hubungan dengan yang lain.

Selain itu kata Naibaho, pada hari Minggu kemarin, pihak gereja juga sudah mengumumkan kepada jemaatnya bahwa akan ada dilangsungkan acara pemberkatan pernikahan pada Kamis (16/8).

Pengakuan Kekasih R br N: Dia Selalu Berjanji Segera Menikahiku.
Kamis (15/8) sore, METRO menyambangi kediaman R br N di Lorong 20, Jalan Rakutta Sembiring, Kelurahan Sigulanggulang, Siantar Utara. Salahseorang kerabatnya mengatakan, kondisi R br N kurang sehat. Sehingga terpaksa berbaring di rumah.

Namun setelah menjelaskan maksud dan tujuan, R br N pun bersedia menerima kedatangan METRO untuk diwawancarai. Wanita yang sudah memiliki tiga orang anak ini menceritakan, awalnya dia sama sekali tidak mengetahui bahwa MN akan melangsungkan pernihakan dengan wanita lain.

Sebab selama ini, dia mengaku berada di kampung di Kecamatan Tigadolok, Simalungun, menjenguk keluarganya yang sedang sakit. Namun komunikasi antara dia dengan MN sama sekali tidak ada masalah dan tetap berlanjut. “Beberapa hari lalu, saat kami telepon, katanya dia (MN, red) akan ke Samosir untuk keperluan pesta. Maksudnya hari ini (Kamis (15/8). Tapi aku percaya dan mengiyakan saja,” kata wanita yang mengaku suaminya marga Pasaribu telah lama meninggal.

Dia mengatakan, baru mengetahui kalau ternyata calon suaminya MN telah berbohong pada Rabu (14/8) malam, saat ia pulang dari Tigadolok.

R br N mendengar kabar bahwa MN akan melangsungkan pernikahan Kamis (15/8), di Gereja HKBP Martoba dan pesta adatnya dilangsungkan di Jalan TB Simatupang, yang hanya berjarak 600 meter dari gereja tersebut. Mendengar kabar itu, R br N pun kecewa dan marah karena merasa ditipu oleh MN.

Dia pun merencanakan meminta pertanggungjawaban dengan mendatangi ke Gereja HKBP. “Itulah ceritanya. Makanya, aku kecewa. Padahal kami sudah sepakat mau menikah.

Tapi waktunya belum ditentukan. Dia selalu berjanji dan mengatakan tunggu setahun dulu setelah istrinya meninggal,” katanya, sembari mendapat perawatan dari seorang tenaga medis yang datang ke rumahnya.

Dia juga mengatakan, bukan hanya dia yang kecewa tapi seluruh keluarganya juga kecewa atas tindakan MN yang menikah secara diam-diam. Dengan wajah sedih, R br N menceritakan, selama mereka berhubungan sejak tahun 2012, dia sudah dua kali keguguran. Rasa cintanya kepada MN adalah karena kebaikannya tapi dengan peristiwa tersebut, cintanya berubah benci.

Ditanya sedikit tentang kisah mereka, R br N mengaku, berkenalan dengan pria yang sudah berusia 51 tahun itu awalnya dari handphone (HP). “Awalnya, saya tidak kenal tapi tiba-tiba ada telepon masuk dan kemudian dari situ kenalannya. Dia mengaku sudah duda dan kemudian kami pun bertemu. Sejak itu, kami berhubungan,” ujarnya singkat.

Dengan kondisi tersebut, R br N mengaku merasa sangat malu dan terhina atas tindakan yang dilakukan MN yang telah menikah dengan perempuan lain.

Diberkati di Rumah.
Setelah pulang dari gereja, pihak keluarga MN (51) tidak menyerah. Mereka pergi ke kampung mempelai perempuan di Parsaoran Talun Kondot dan berusaha membujuk M br S supaya mau melanjutkan pernikahan.

Saat itu, keluarga MN berusaha meyakinkan akan tetap melangsungkan pemberkatan dengan mencari gereja lain. Keluarga MN juga berjanji berusaha berdamai dengan R br N, kekasih mempelai pria yang sempat menuntut dinikahi sesaat sebelum pemberkatan di HKBP Martoba digelar.

Sedangkan situasi di rumah MN di Jalan TB Simatupang, para undangan terlihat masih bertahan. Diantara mereka sudah berpakaian pesta adat. Kemudian para undangan juga tampak setia di di bawah teratak halaman rumah MN. Sembari menunggu kepastian apakah acara pemberkatan dilanjutkan atau tidak, mereka bercerita satu sama lain atas kondisi tersebut.

Selain itu, tidak sedikit juga warga sekitar datang ke lokasi untuk mengetahui perkembangan soal pernikahan MN dan kekasihnya M br S. Sementara keyboard yang sudah dipersiapkan untuk pesta akhirnya tidak jadi dimainkan dan kemudian dipulangkan.

Namun sekitar pukul 15.30 WIB, terdengar kabar bahwa pihak keluarga mempelai wanita akhirnya bersedia pernikahan tetap dilanjutkan. Sembari itu juga upaya perdamaian antara pihak R br N dan MN juga berujung pada sebuah kesepakatan yang intinya R br N tidak akan menuntut lagi.

Namun dengan persyaratan kerugian yang dialami oleh R br N saat dirawat di rumah sakit ketika keguguran diganti oleh MN. Setelah saling tawar menawar, disepakatilah Rp3 juta sebagai pengganti biaya perawatan  tersebut.

Sekitar pukul 16.30 WIB, suasana yang awalnya cukup tegang, tiba-tiba berubah cair tatkala rombongan mempelai wanita tiba di rumah MN. Kondisi yang cukup mengharukan tersebut terlihat saat mempelai wanita keluar dari mobil dan langsung dipeluk pihak keluarga MN.

Antara rasa bahagia dan haru juga disaksikan oleh warga setempat. Selanjutnya, kedua mempelai pun masuk ke rumah dan sore itu juga dilangsungkan acara pemberkatan pernikahan. Karena HKBP tidak bersedia lagi melangsungkan pemberkatan pernikahan, pihak keluarga pun mencari gereja lain.

Akhirnya upaya itu juga berhasil, Gereja Pentakosta bersedia memberkati keduanya. Bahkan sesuai permintaan keluarga, seorang pendeta Pentakosta bermarga Sihotang bersedia turun langsung ke lokasi untuk melangsungkan pemberkatan di rumah MN.

Pendeta bermarga Sihotang tersebut kemudian memimpin ibadah secara sederhana dengan bernanyi lagu pujian dan berdoa dan memberkati kedua mempelai.

Tidak sedikit dari pihak keluarga kedua mempelai meneteskan air mata melihat situasi tersebut, termasuk juga mempelai wanita juga meneteskan air matanya.

Usai acara pemberkatan pernihakan yang berlangsung sekitar 30 menit tersebut, langsung dilanjutkan acara adat.

Selama acara tersebut pihak keluarga tetap berjaga-jaga siapa tahu R br N yang rumahnya berada di Lorong 20 Jalan Rakutta Sembiring, datang ke lokasi pesta yang jaraknya sekitar 5 km.

J Nainggolan, selaku pihak keluarga mempelai pria kepada METRO menerangkan, pihaknya akan tetap berupaya supaya kelangsungan pemberkatan pernikahan dan adat tetap dilakukan bagaimana pun situasinya. Terkait R br N yang sebelumnya keberatan juga telah diatasi dengan membuat kesepakatan berdamai. “Memang kami ada rasa kecewa tapi apa boleh buat beginilah situasinya,” katanya.

Dia menerangkan bahwa MN sehari-harinya bekerja sebagai penjaga sekolah yang statusnya sudah PNS.

Ia  menyebutkan, MN merupakan duda anak lima dari istrinya terdahulu Boru P. Istri MN yakni Boru P sudah meninggal dunia pada tahun 2012 lalu.

Sementara itu, seorang pria bermarga Siahaan, mengaku sebagai paman dari mempelai perempuan menyebutkan bahwa keputusan untuk melanjutkan pernikahan ada di tangan MN dan M br S. “Kami dari keluarga menyerahkan sepenuhnya kepada dia (M br S). Sebab dia yang menikah dan dia yang menjalani. Kalau memang tetap menikah, pihaknya tidak bisa menghalanginya,” ujarnya.

Pria yang juga mengaku sempat merasa kecewa ini, menceritakan bahwa kedua orangtua M br S sudah meninggal. Dan M br S belum pernah menikah walaupun usianya sudah 41 tahun.

Pendeta Pentakosta: Bagaimana pun Tetap Ada Pengampunan dari Tuhan.
Usai acara pemberkatan pernikahan, Pendeta Gereja Pentakosta bermarga Sihotang, sempat ngobrol dengan METRO.

Dia mengatakan, pihaknya tetap menerima untuk memberkati kedua mempelai. “Kisah ini ada di alkitab, ketika itu ada seorang perempuan yang telah berbuat hina dan kemudian masyarakat menghukumnya dengan melempari pakai batu.

Lalu Yesus datang dan berkata; yang boleh melempar dia hanya orang yang tidak memiliki dosa. Akhirnya tidak ada yang melempar,” kata pendeta tersebut.

Dia menambahkan, bagaimana pun kehidupan seseorang tetap ada pengampunan dari Tuhan.

Iklan
 
8 Komentar

Ditulis oleh pada 16 Agustus 2013 in Artikel Asal Usul, Kisah Nyata

 

Tag: ,

8 responses to “Pemberkatan di Gereja Bubar, Kekasih Mempelai Pria Menuntut Dinikahi.

  1. Martinus M. Lumban Gaol

    20 Agustus 2013 at 08:30

    Memalukan !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

     
  2. Martinus M. Lumban Gaol

    20 Agustus 2013 at 08:31

    Ok, trims

     
  3. 19102002

    20 Agustus 2013 at 16:26

    betul…. tetap ada pengampunan…. tapi tidak tepat pada kasus ini….
    kasihan kalau ayat di alkitab di pakai untuk membenarkan ….
    malah yg ada dipikiran keluarga kedua mempelai adalah… uang yg sudah dikeluarkan untuk pesta akan menguap begitu saja… (oke… mungkin kita hanya menebak)…. mari kita diskusikan lagi mengenai pembenaran yg dilakukan di atas…

     
  4. 19102002

    20 Agustus 2013 at 16:50

    bpk MN… sudahkah iya mohon ampun pada Tuhan tanpa membereskan hubungannya dengan R br N? yg ada pada berita di atas… R br N telah dibohongi…. berarti bpk MN tidak melakukan apapun yg menunjukkan bpk MN telah mohon ampun atas kesalahannya. berita diatas hanya mengatakan uang yg telah dikeluarkan diganti sebesar 3 jt…..
    pengampunan hanya datang dari Tuhan…

     
  5. 19102002

    20 Agustus 2013 at 16:55

    kenapa harus hari itu juga diberkati? hanya memikirkan biaya yg sudah keluar bukan? jadi ayat itu terlalu dipaksakan…

     
  6. John Pangribuan

    21 Agustus 2013 at 21:29

    memang benar yg dikatakan amang Pdt Sihotang itu dari satu sisi, tapi sesuai aturan dan peraturan yg ada di Gereja HKBP, tdk dapat dibenarkam, apalagi adanya cerita yg memilukan dan memalukan.
    HKBP harus berjalan sesuai ATURAN DAN PERATURAN YG ADA DAN JGN MELENCENG dari aturan dan peraturan tersebut.

     
  7. renova

    28 Agustus 2013 at 11:00

    Pendeta sitohang terlalu memaksakan kisah perempuan berdosa tersebut dalam kasus ini.Beliau terlalu berani mengambil tindakan itu. Segala sesuatu ada aturannya pa. Setiap tindakan mari kita lakukan di dalam TAKUT AKAN TUHAN.r

     
  8. daniel

    28 Agustus 2013 at 20:26

    yang harus kita sadari dan selalu di ingat :

    TIDAK MUDAH BAGI SIAPAPUN UNTUK MEMBAWA NAMA HKBP

     

Wajib tinggalkan balasan disini:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: