RSS

Penutupan Gereja Koyak Rasa Kebersamaan.

27 Sep
Senin, 23 September 2013 – 13:53 WIB
Misa di gereja.
JAKARTA – Aksi penutupan gereja masih terjadi di Tanah Air. Minggu (22/9), ratusan orang yang mengenakan pakaian berwarna putih dan ikat kepala merah berunjuk rasa dan menggembok Gereja Katolik Santa Bernadette di Bintaro, Kelurahan Sudimara Pinang, Kota Tangerang.
Sebelum membangun gereja di sana, umat Katolik di Paroki Santa Bernadette beribadah di Sekolah Sang Timur di Ciledug. Namun, ibadah mereka di sana juga dipersoalkan warga setempat sehingga akhirnya ditutup.

Wakil Ketua Setara Institute, Bonar Tigor Naipospos ketika dihubungi SH, Senin (23/9) pagi ini mengatakan, aksi ratusan orang di Bintaro itu sangat menyoyak rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Tindakan itu menciderai semangat kebersamaan yang dicita-citakan para pendiri bangsa ini ketika memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

“Tindakan-tindakan anarkistis seperti ini tidak boleh terus dibiarkan.  Ini kejadian yang sudah sering  berulang di mana kelompok intoleran dibiarkan melakukan aksi-aksi tidak bertanggung jawab,” ia mengingatkan.

Bonar mempertanyakan aksi unjuk rasa ratusan orang pada Minggu pagi ini itu mengantongi izin atau tidak. “Polisi seharusnya membubarkan aksi unjuk rasa yang dilakukan kelompok ekstrem seperti itu. Jangan malah membiarkan aksi-aksi itu terjadi,” katanya.

Polisi dan pemerintah Tangerang sepertinya melakukan pembiaran aksi-aksi seperti ini karena mereka takut pada kelompok intoleran tersebut. Bonar menjelaskan kehidupan umat beragama terkoyak karena mereka menilai negara tidak hadir dan justru melakukan pembiaran intoleransi.

“Pidato-pidato yang menyerukan persatuan dan kesatuan hanyalah slogan-slogan kosong atau sekadar lips service,” ujarnya.

Pemerintah justru memelihara konflik bernuansa SARA untuk mencari keuntungan sendiri dan kalau perlu terus dikipas-kipas supaya memanas. Menurutnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak akan bisa mengatasi aksi-aksi anarkistis karena lebih sibuk mencari penghargaan dibandingkan menyelesaikan masalah nyata yang ada di lapangan.

“Presiden SBY dengan mudah melempar tanggung jawab dan menyalahkan pemerintah daerah. Bagi presiden, lebih penting menerima penghargaan dari The Appeal of Conscience Foundation (ACF) sebagai tokoh yang berhasil menjaga toleransi kerukunan umat beragama ketimbang menyelesaikan masalah nyata seperti penutupan gereja dan tindakan intoleran kepada kelompok-kelompok lain,” ia menerangkan.

Kordinator aksi, Asikin mengatakan, mereka menolak keberadaan gereja itu karena jemaat gereja tidak hanya berasal dari Kota Tangerang, tetapi juga dari luar wilayah tersebut. Ia mengaku, aksi penolakan itu sudah dilakukan sejak tahun 1985.

Namun, Pastor Paroki Santa Bernadette, Paulus Dalu Lubur menyatakan, pihaknya tidak mengetahui motif pengunjuk rasa itu. Dia berjanji akan berusaha berdialog dengan warga sekitar gereja.

Kapolres Metro Tangerang Kombes Riad yang dikonfirmasi SH, Senin (23/9) pagi ini hanya membenarkan adanya aksi protes warga terhadap gereja tersebut. Namun, dia tidak bisa menjelaskan secara rinci terkait persoalan itu dengan alasan sedang mengikuti rapat. (Parluhutan Gultom)

 Sumber : SHNews.co

 

Tag: , , ,

Wajib tinggalkan balasan disini:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: