RSS

Keputusan Rapat Pendeta HKBP Distrik XXVIII DKI Jakarta, 2 – 4 September 2013.

01 Okt

1.    PENDAHULUAN

Puji dan syukur kita ucapkan kepada  Allah Bapa, AnakNya TuhanYesus Kristus dan Roh Kudus yang telah memberikan hikmat, pengertian serta perlindungan sehingga dapat terlaksana Rapat Pendeta HKBP  Distrik XXVIII DKI Jakarta. Rapat Pendeta ini berlangsung dari tanggal 02 – 04 September 2013 di  Hotel Panorama Lembang Bandung, yang dibuka dengan resmi oleh  Praeses HKBP Distrik XXVIII DKI Jakarta Pdt. Colan W.Z. Pakpahan, M.Th, dengan Tema “HKBP Menjadi Berkat Bagi Dunia” (Kejadian 12:2) dengan Sub-Tema: Mengembangkan Pelayanan HKBP dengan Pilar Pembaharuan, Perdamaian, Pemberdayaan ditengah – tengah Masyarakat Majemuk”.

Rapat Pendeta ini berlangsung dengan baik, dengan tuan dan nyonya rumah HKBP Resort Sutoyo, dimana perserta yang hadir 118 peserta dari yang diharapkan 141 peserta. Rapat Pendeta ini juga dihadiri oleh  Ketua Rapat Pendeta HKBP yang juga sebagai Ephorus HKBP, yaitu Ompui Pdt.W.T.P.Simarmata, MA, dimana beliau memberikan ceramah thema pada hari Selasa, 03 September 2013.

Selain ceramah dari Ompui Ephorus, acara lainya dalam Rapat Pendeta ini adalah ibadah, ceramah-ceramah, sidang-sidang dan diskusi tentang peningkatan pelayanan pendeta di tengah jemaat dan aktualisasi teologi dan liturgi di gereja HKBP.
Rapat Pendeta yang dilanjutkan dengan Sinode HKBP Distrik XXVIII DKI Jakarta  ini telah menetapkan berbagai keputusan untuk dapat dilaksanakan dalam pelayanan di  HKBP Distrik XXVIII DKI Jakarta.

2.    DAFTAR KEPUTUSAN RAPAT PENDETA

2.1.    HKBP Berkat Bagi Dunia
Dalam rangka mengoperasionalkan visinya yaitu: Menjadi Berkat Bagi Dunia, maka Rapat Pendeta HKBP Distrik XXVIII DKI Jakarta memutuskan :

  • HKBP dalam menjalankan tugas panggilannya dalam konteks masyarakat yang majemuk (pluralism) dan komunitas multikultural perlu mengupayakan agar setiap warga jemaat memahami dan menghargai hak azasi manusia,
  • HKBP perlu melaksanakan pembekalan kepada warga jemaat agar siap memasuki dunia kerja, melalui pelatihan dan kursus ketrampilan,
  • HKBP perlu mendirikan sekolah unggulan dan universitas di Jakarta,
  • HKBP perlu menyuarakan/mensosialisasikan kepada warga jemaatnya perihal kesadaran ekologi, melalui pelayanan khotbah, Penalahan Alkitab, yaitu menyerukan  3 R: Reduce (mengurangi), Reuse (penggunaanulang), Recycle (Daurulang),
  • HKBP secara berkelanjutan perlu melaksanakan Penanaman Pohon di lingkungan gereja, dan di daerah-daerah yang patut untuk ditanam pohon, terutama pohon yang menghasilkan buah yang dapat dikonsumsi,
  • HKBP perlu mengkritisi penanaman modal yang berpotensi merusak lingkungan hidup,
  • HKBP  perlu memberdayakan dan mendirikan Credit Union (CU),
  • HKBP perlu mengadakan pelatihan dan kursus ketrampilan, seperti Salon, Menjahit, Supir, d.l.l.
  • HKBP perlu mempersiapkan warga jemaatnya yang berkeinginan menjadi anggota legislatif, atau yang duduk di kursi pemerintahan agar berani dan mampu menyuarakan kebenaran dan keadilan dengan santun,
  • HKBP perlu tetap menjalin bekerjasama dengan pemerintah dalam rangka mensejahterakan masyarakat,
  • HKBP perlu mempersiapkan dan memberdayakan Pendeta supaya menjadi berkat melalui kegiatan seminar-seminar lintas disiplin ilmu seperti perbandingan agama, pelatihan-pelatihan untuk menambah wawasan pengembangan pelayanan,
  • HKBP perlu menyesuaikan Kurikulum STT  dengan kebutuhan jemaat / pelayanan,
  • HKBP  perlu meningkatkan materi Latihan Persiapan Pelayan (LPP) bagi Calon Pendeta HKBP,
  • HKBP perlu menetapkan syarat penerimaan calon pendeta di HKBP dengan batas umur maksimal 35 tahun, kecuali bagi Guru Huria yang menjadi Pendeta HKBP,
  • HKBP perlu meningkatkan “Parhahamaranggion” sesama pendeta (bnd. Elia dan Elisa), di mana kharisma dan roh pelayanan yang tulus diwarisi secara alamiah, demikian juga dengan nilai solidaritas sesama pendeta perlu mendapat perhatian (pendeta mangurupi pendeta harus semakin ditingkatkan),
  • HKBP perlu merekomendasikan pembentukan forum “kemah pemuda kebangsaan” yang melibatkan pemuda Gereja secara oikumenis dan pemuda dari agama / kepercayaan lainnya,
  • HKBP perlu mendirikan Radio HKBP, dimana HKBP Distrik XXVIII DKI Jakarta sebagai Media informasi dan komunikasi HKBP dalam membangun karakter warga jemaat, masyarakat dan bangsa,

2.2.    Pastoral Pranikah dan Paska Nikah
Dalam rangka membangun kehidupan spiritual keluarga di kalangan HKBP  maka Rapat Pendeta memutuskan:

  • Supaya HKBP melaksanakan konseling pranikah dan konseling paska nikah bagi keluarga warga gereja sebanyak mungkin. Dalam hal penetapan waktu pelaksanaan pelayanan konseling pastoral,  hendaknya memperhatikan kondisi dari setiap pasangan yang akan menerima pelayanan konseling, namun perlu pertemuan yang intensif sedapat mungkin  3 bulan.
  • HKBP perlu mengadakan konseling bina keluarga atau pasca nikah terlebih kepada keluarga yang bermasalah dengan melakukan pendampingan agar mereka dapat menjaga keutuhan rumah tangga mereka kedepannya.
  • HKBP Distrik Jakarta perlu membentuk tim penyusunan buku panduan konseling pra dan paska nikah dengan mempertimbangkan bahan-bahan yang sudah ada, sehingga program diatas dapat terlaksana. Buku penuntun yang perlu dipertimbangkan a.l. buku Penuntun Konseling Pranikah oleh Distrik Jakarta 3, serta bahan atau sumber yang dipandang perlu.
  • Buku panduan tersebut paling sedikit memuat :
  1. Pengenalan antara pasangan terhadap si konselor,
  2. Dasar-dasar pemahaman Kristiani tentang perkawinan,
  3. Pendidikan Anak,
  4. Masalah-masalah dalam keluarga,
  5. Komunikasi dalam keluarga,
  6. Etikaseksual,
  7. Masalah ekonomi / finansial, harta keluarga,
  8. Mencakup soal gaji suami istri, warisan,
  9. Hubungan perkawinan Kristen dengan budaya Batak dan dengan budaya sekitar,
  10. Gender dan spiritualitas keluarga,

Tim yang dibentuk dapat menyelesaikan dalam 6 bulan setelah di tetapkan.

  • HKBP perlu melaksanakan sermon Pasutri (Pasangat Suami Isteri) bagi keluarga muda dengan usia pernikahan 1–10 tahun,
  • HKBP perlu merumuskan tata ibadah atau agenda Partumpolon yang akan dipakai pada partumpolon di semua jemaat Distrik DKI Jakarta.

2.3  Tata Ibadah
HKBP menyadari perlunya tata ibadah yang kontekstual seperti yang sudah diputuskan dalam Sinode Godang 2002, karena itu Rapat Pendeta memutuskan:

  • Menyusun dan memakai model-model Ibadah kontekstual untuk Remaja – Pemuda dengan mempertimbangkan model-model ibadah yang pernah ada di 3 Distrik sebelumnya,
  • Menyusun tata ibadah Pesta Gotilon oleh Tim Pengembangan Liturgi dan Ibadah jemaat Distrik XXVIII DKI Jakarta dan membagikannya keseluruh Resort,
  • Melaksanakan Ibadah kontekstual secara praktis (pengkhotbah, jubah, posisi berkhotbah, sermon petugasnya, dsb), sesuai dengan Aturan & Peraturan HKBP,
  • Mengusulkan kepada Komisi Liturgi HKBP supaya menerbitkan Agenda HKBP yang sudah direvisi,
  • Mengusulkan kepada Komisi Liturgi HKBP supaya merevisi Agenda Perjamuan Kudus yang sejalan dengan pemahaman teologis Konfessi HKBP 1996 dan membuat Tata ibadah perjamuan kudus yang lebih ringkas untuk orang sakit,
  • HKBP melaksanakan penyeragaman Liturgi parmingguon,
  1. Doa syafaat di kebaktian Minggu langsung oleh Pengkhobah, setelah khotbah,
  2. Kantong persembahan diserahkan oleh paragenda kepada pengumpul persembahan,
  3. Song leader, suaranya jangan mendominasi, karena song leader hanya memandu lagu. Song leader menyanyikan nyanyian yang sesuai dengan panduan liturgist (paragenda),
  4. Koor dimulai setelah pengampunan dosa. Isi Koor diusahakan supaya sesuai dengan nama dan thema Minggu.
  • Menerbitkan Buku Panduan tentang keseragaman Liturgi di Distrik DKI Jakarta Raya oleh Tim Pengembangan Ibadah dan Liturgi,
  • Setiap pengkhotbah hendaknya menjaga kekudusan mimbar agar tidak terjadi penyalahgunaan mimbar.

2.4. Keseragaman Pelayanan
Rapat pendeta menyadari pentingnya keseragaman pelayanan di HKBP Distrik DKI Jakarta Raya, oleh karena itu:

  • Semua Parhalado yang bertugas dalam ibadah minggu baik paragenda, pengumpul persembahan, pembaca warta jemaat tetap memakai baju parhobas.
  • Ibadah persiapan di konsistori cukup diawali dengan nyanyian dan doa.
  • Perlu merumuskan dan menyeragamkan tata ibadah partumpolon dan pemberkatan nikah.
  • Dalam barisan prosesi pada saat ibadah pemberkatan pernikahan, urutannya adalah: kedua mempelai diikuti orang tua, kemudian keluarga, dan  masuk melalui pintu utama gereja.
  • Tukar cincin dapat dilakukan pada saat ibadah partumpolon seperti yang sudah diputuskan Rapat Pendeta Hatopan. Apabila dilakukan dalam acara pemberkatan maka sebaiknya dilakukan sebelum mempelai berjabat tangan untuk menerima berkat.
  • Gereja melaksakan RPP (siasat gereja) kepada jemaat yang sudah divonis pengadilan Negara / berkekuatan hukum tetap.
  • Bila ada anggota jemaat HKBP yang diberkati di gereja Katolik maka yang bersangkutan dianggap sudah menjadi jemaat katolik, dan Gereja tidak mewartakan perkawinan tersebut. Apabila mereka yang diberkati di gereja Katolik ingin kembali ke HKBP maka yang bersangkukan harus melalui proses “ruas parguru” .
  • Apabila ada jemaat dari Gereja Katolik yang hendak menikah dengan jemaat HKBP di gereja HKBP, maka yang bersangkutan harus terlebih dahulu naik sidi, sebagai bentuk pengakuan bahwa yang bersangkutan sudah beriman protestan.

Demikianlah Daftar Keputusan Rapat Pendeta HKBP Distrik XXVIII DKI Jakarta ini untuk dapat kita laksanakan bersama demi peningkatan pelayanan.

Diputuskan dan ditetapkan pada
Rapat Pendeta HKBP Distrik XXVIII DKI Jakarta.
Lembang, Bandung, 4 September 2013
Praeses HKBP Distrik XXVIII DKI Jakarta.

Pdt.Colan W.Z. Pakpahan.M.Th

Sumber: HKBP – Distrik DKI Jakarta

Iklan
 

Tag: ,

Wajib tinggalkan balasan disini:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: